Tuesday, February 7, 2012

Masih Tentang Kewajiban Menulis di Jurnal Ilmiah

Dari milis DG:


Bapak/Ibu ysh,

Pada intinya kebijakan DIKTI tentang penulisan jurnal ini bagus dan baik sekali untuk memacu budaya menulis para mahasiswa Indonesia. Namun demikian alangkah baiknya detil kebijakannya dibuat lebih cermat dengan memahami konteks yang berjalan selama ini.
 
Menurut saya kurang tepat kalau menjadikan kewajiban menulis jurnal sebagai prasyarat kelulusan, apalagi untuk mahasiswa S1. Sebaliknya, jadikan penulisan jurnal sebagai sebuah insentif. Misalnya, di UM, kebijakan penulisan ini hanya ditujukan untuk mahasiswa S3. Mereka didorong untuk berhasil submit ke Jurnal ilmiah internasional (JUST submit, not accepted and published). Sekedar submit saja mahasiswa sudah mendapat kredit untuk bisa lulus Doktornya. Mereka juga berhak dengan dana untuk workshop/seminar/konferensi internasional, dst. Kami di Departemen HI FISIP UI sendiri, sudah lama sebenarnya menerapkan kebijakan bahwa skripsi / tesis mahasiswa yang bagus (mendapat A dan isunya menarik or relevan dengan tema jurnal yg sedang diterbitkan) dapat DITERBITKAN dalam jurnal ilmiah GLOBAL, jurnal yg diterbitkan 2x dalam setahun oleh Departemen HI FISIP UI. Mahasiswa cuma diminta membuat versi singkatnya. Dengan cara ini mahasiswa ybs dapat kredit dalam CVnya. Mereka dan Dosennya pun bangga!
 
Jadi, menurut hemat saya akan sulit kalau SELURUH skripsi mahasiswa HARUS diterbitkan dalam Jurnal Ilmiah. Tetap harus ada proses SELEKSI (karena jurnal kan dibaca publik yg lebih luas, perlu ada akuntabilitasnya) dan sekali lagi dasar pemikiran pemuatan dalam Jurnal adalah INSENTIF, bukan PUNISHMENT. Insentif juga perlu diberikan untuk para pengurusnya (reviewernya, pengelolanya)
 
Kedua, kebijakan bagus dari DIKTI ini harus didukung oleh banyak hal, tidak bisa hanya sekedar "teriak" perbanyak penerbitan Jurnalnya. Beberapa hal yang diperhatikan adalah:
-> pendanaan untuk penerbitan jurnal berkualitas yang sustainable
Sudah menjadi rahasia umum, menerbitkan jurnal yang berkualitas (termasuk kemasannya) dan mampu diterbitkan secara berkala dengan tertib, dua tahun berturut-turut saja, para pengelolanya itu jungkir balik. Hanya mereka yang mau kerja bakti biasanya yang mampu mempertahankan kinerja penerbitan jurnal ilmiahnya.
So, kalau ingin digiatkan (kuantitas dan kualitas serta frekuensinya) maka memang setidaknya ada "gizi" yang cukup untuk para pengelola juranl ilmiah ini.
 
-> untuk jurnal ilmiah internasional bagi mahasiswa S2/S3. Saya yakin banyak penelitian  yang bagus dan menarik dari mahasiswa Indonesia, karena Indonesia sendiri adalah laboratorium hidup untuk banyak pengembangan ilmu, mulai dari sosial humaniora sampai physics-biology. Masalahnya harus diakui bahwa kemampuan berbahasa Inggris akademis yang baik belum menjadi kemampuan standar bagi kebanyakan kita.
Jadi, alangkah baiknya pemerintah mendukung berdirinya semacam Centre of Learning Process (terserah apa namanya) yang fungsi utamanya adalah memberikan bantuan/fasilitasi kepada mereka yang naskah jurnalnya sudah dianggap layak oleh peer group untuk dipublish tetapi perlu dukungan editor bahasa yang baik, sehingga gagasan dan temuan risetnya dapat ditangkap dengan baik olh pembaca internasional (khususnya dewan editor jurnal ilmiah internasional yg dituju).
Dengan kata lain ada dukungan institusional yang memadai untuk langkah (proses) menuju "go international" ini. Jangan hanya membebani mahasiswa, sementara institusi cuma ingin mencatat hasilnya saja.
 
Demikian   masukan sebagai urun rembug untuk mendukung kebijakan DIKTI ini, mudah-mudahan ada manfaatnya, pastinya banyak ide lain yang tak kalah baik dan menarik untuk memberikan bmasukan bagaimana Kebijakan DIKTI ini bisa workable untuk kebaikan bersama, khususnya penguatan SDM dan pengembangan ilmu pengetahuan melalui penerbitan Jurnal Ilmiah yang berkualitas.
 
Salam,
Nurul Isnaeni
FISIP Universitas Indonesia
 
Dari Internal Website UII
UII Rector: ”The Duty of Writing Journal for Undergraduate Students is Unrealistic Obligation"     E-mail
Saturday, 04 February 2012

The enthusiasm of Directorate General of Higher Education (DIKTI), Ministry of National Education and Culture to increase scientific journal publication in Indonesia must be appreciated. As we know that, the Indonesian scientific journal publication is still lower than Malaysia, Thailand, and Singapore. Thus, the duty of writing journal for undergraduate students who will graduate on August 2012 is unrealistic obligation. This statement was revealed by UII Rector, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. while having press conference on Friday (02/03) at Padang Sederhana Restaurant, Kaliurang street.

Based on the Circular of the Directorate General of Higher Education Ministry of Education and Culture No 152/E/T/2012 concerning scientific journal publication for undergraduate/graduate/postgraduate student, starting at August 2012, undergraduate students have to publish scientific article in journal. Then graduate students have to publish scientific article in national journal (DIKTI accreditation). Meanwhile, Postgraduate students have to have to publish scientific article in international journal.

Prof. Edy urged that this policy does not meet with journal capacity in Indonesia. If there are more than 3000 private and state universities in Indonesia that graduate their 750 thousand students in a year, there will thousand of scientific journals in publication in Indonesia. “Perhaps, we can publish the research on international scientific journal. However, it is still difficult since there is small number of Indonesia post graduate student who publish their scientific writing or present their research in International forum.” Prof Edy stated.

Prof. Dr. Edy Suandi Hamid who is also the chairman of Indonesian Private University Association (APTISI), also said that this policy is unrealistic. According to Indonesian Scientific Journal Database (PDII –LIPI) on October 2009, there were 2100 scientific journals including 406 scientific journals which were accredited. “Perhaps, the number of journal has increased. But, it still can not accommodate the scientific article written by scholar’s candidates.” He uttered.

According to Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, the Directorate General of Higher Education policy is innovative idea in encouraging scholar to write scientific article. However, DIKTI has not yet prepared it well. If the policy is implemented, national instability will be emerged. “National Journals publications have to be increased to accommodate scientific article written by both undergraduate and graduate student. In addition, if this policy will be implemented, Prof. Edy was worried about the emergence of low quality journal publication. If this happened, the objective of journal publication as the media to publish academic writing was unfulfilled. Prof Edy viewed that journal will be the formality requirement in graduating scholar in Indonesia.

“For that reasons, this policy should be done step by step. Moreover, the Directorate General of Higher Education (DIKTI) has to stimulate Indonesian scholar’s candidate, take for example by urging the academic program accredited ‘A’ grade to conduct this policy or by conducting other methods.” Prof Edy stated.

Ulasan di blog-nya Pak Rinaldi Munir, silahkan di-klik di tautan/pranala berikut ini.

1 comment:

  1. saya mahasiswa dari Universitas Islam Indonesia
    Artikel yang sangat menarik, bisa buat referensi ini ..
    terimakasih ya infonya :)

    ReplyDelete